3 CARA MEMULIHKAN ENERGI KREATIFMU

3 Cara Memulihkan Energi Kreatifmu (Ketika Pekerjaanmu Menyedot Semua Energi).

Jujurlah, banyak dari kita tidak punya kemewahan untuk menjadi kreatif sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang tahun. Kebanyakan dari kita, sebagian besar punya pekerjaan sampingan untuk rumah dan membayar tagihan.

Tapi kita sadar bahwa pekerjaan sampingan yang seharusnya membantu menambah penghasilan dan memberikan waktu luang bebas stres untuk menekuni kegemaran kita, ternyata malah menguras seluruh kreatifitas kita sehingga tak ada lagi yang tersisa untuk hal-hal yang kita minati.

Saya telah menemukan solusi untuk masalah ini, dan seperti biasanya kapanpun saya berhasil mengatasi suatu rintangan saya mau berbagi pada Anda, supaya Anda juga bisa mengatasi tantangan ini.

3 Cara Memulihkan Energi Kreatifmu

(Ketika Pekerjaanmu Menyedot Semua Energi)

1. Pelajari Bagaimana Mengatur Energimu dengan Lebih Baik

Baru-baru ini saya sibuk berpikir tentang energi dan betapa berharganya energi itu. Napeleon Hill, salah satu pakar self-help yang pertama, dan pengarang Thing and Grow Rich, mengatakan bahwa apabila kamu ingin mewujudkan impianmu, kami harus menggunakan seluruh energimu untuk tugas dan aktifitas yang akan membantu mengembangkan manifestasi impianmu, dan berikan nol energi pada tugas-tugas yang tidak membantumu mewujudkan impian itu.

Ini adalah suatu pernyataan yang dahsyat jika Anda memikirkannya, karena jika kita benar-benar menilai energi kita dalam konteks apakah membantu mencapai impian atau tidak, maka banyak dari kita akan menyadari bahwa kita membuang-buang banyak energi pada kegiatan yang tidak berguna, atau terperangkap dalam drama konyol dengan orang asing, anggota keluarga, atau teman, padahal energi itu bisa digunakan untuk mewujudkan impian kita.

Inilah kenapa langkah pertama untuk mendapatkan kembali energi kreatif (ketika pekerjaan sampingan kita menyedot seluruh energi) adalah dengan memperhatikan dengan baik pada energi yang kita habiskan setelah bekerja dan menyadari bagaimana cara kita menghabiskannya pada hal-hal yang tidak pantas dilakukan.

Misalnya, apakah kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengusir tetangga yang menyebalkan dari kompleks apartemen? Atau kita menghabiskan berhari-hari membayangkan apa yang sedang dipikirkan mantan pacar yang sudah punya kekasih lain? Apakah kita menghabiskan berjam-jam menonton berita tentang bencana alam, krisis kemanusiaan, konflik negara tetangga, pembunuhan, penembakan masal, skandal politik, krisis palsu selebritis (apakah foto bugil yang tersebar perlu disebarkan secara internasional? Ayolah), berita ini, berita itu dan apakah obsesi kita pada berita membantu kita meredakan keadaan, atau cuma sekadar menakuti, membuat marah dan depresi pada keadaan, hanya memperburuk keadaan dan tidak membantu sama sekali?

Kenyataannya, energi kita tidaklah keramat karena dia terbatas. Hadapilah, kita sering mencurahkan energi kita pada pekerjaan sampingan karena kita benar-benar perlu membayar tagihan dan ini sangat bisa dimengerti.

Tapi haruskah kita energi “pasca-bekerja” pada hal-hal yang tidak membantu kita mengembangkan kegemaran kita? Bukankah kita selalu dengan hati-hati dan teliti mengatur setiap tetes energi kita supaya kita yakin bahwa seluruh waktu luang kita didedikasikan pada hal-hal yang akan meningkatkan kebahagiaan kita dan bukan sebaliknya?

Apa yang bisa membantu untuk mencapai tujuan kita setelah pulang bekerja :

Satu jam berita kabel atau satu jam dengan terapis yang bisa membantu menenangkan kita dengan perhatiannya?
Menghabiskan waktu terobsesi dengan teman baik yang menusuk dari belakang atau beberapa waktu luang untuk sholat atau meditasi, fokus pada orang-orang yang selalu menghormatimu dalam hidup?
Tertekan oleh situasi pekerjaan yang tak bisa ditangani sampai besok pagi, atau bermain tenis dengan anak-anakmu, dan selanjutnya mendengarkan masalahnya hari ini dan menawarinya cinta dan dukunganmu?
Jika kita tidak berhati-hati mengatur energi kita dan menghabiskannya pada hal-hal yang tidak perlu, suatu saat kita akan benar-benar kosong dan tidak bisa melakukan kegiatan kreatif yang kita cintai dan hargai.

2. Jika Anda Sudah Dalam Kecepatan 100 MPH (sekitar 160 km/jam), Jangan Injak Gas Lagi, Injak Rem.

Dalam mempelajari bagaimana mengatur energi kreatif saya, saya selalu membuat kesalahan klasik yang dibuat semua orang, bukannya mengerem setelah saya menyelesaikan pekerjaan, saya malah menginjak gas lebih kencang.

Yang saya maksud dengan ini adalah alih-alih menyadari permintaan pikiran untuk beristirahat dan relaks setelah hari yang panjang, saya masih saja mendorong diri sendiri untuk kreatif, meskipun saya tau bahwa pikiran saya kelelahan. Saya melakukannya karena banyak blogger dan “ahli” merekomendasikannya. Para ahli itu selalu mengatakan :

“Jika Anda punya pekerjaan, dorong diri anda dengan penuh semangat dan terus dorong meskipun Anda kelelahan, karena itu satu-satunya cara Anda mencapai impian.”

Saya tahu banyak yang tidak setuju dengan saya, tapi saya yakin bahwa pendekatan seperti ini dalam gaya hidup kreatif sangat tidak menyehatkan bagi kita dan ini mungkin yang menjadi alasan kenapa banyak dari kita tidak dapat mewujudkan impiannya.

Saya mencoba pendekatan ini sendiri beberapa waktu dan saya nyatakan dengan tegas bahwa hal itu tidak memberikan energi sama sekali pada kreativitas. Malah sebaliknya, ini membuat kita semakin membenci usaha untuk kreatif karena kita merasa impian kita meminta lebih banyak daripada yang bisa kita tangani.

Dan kita benar berdasarkan insting itu.

Ini yang saya maksud dengan “mengerem” setelah pulang bekerja. Maksud saya Anda seharusnya jangan melakukan apa-apa beberapa saat setelah bekerja. Pikiran Anda perlu saat-saat tanpa berdiam diri. Dia tidak perlu didorong sampai batasnya yang bisa menyebabkan anda habis, kelelahan dan jengkel.

Terakhir, Anda juga perlu beristirahat lebih lama: saya berbicara tentang sehari, seminggu atau mungkin sebulan saat Anda menunda proyek kreatif Anda untuk bisa mengisi kembali kreativitas Anda.

Ketika Anda kembali berhasrat dan bersemangat untuk menjadi kreatif saat itulah Anda tahu bahwa Anda telah memberikan istirahat yang cukup bagi pikiran Anda.

3. Jangan Menurunkan Kreativitas Anda pada Waktu-waktu Tertentu

Setiap kali saya mulai bekerja sejak dua tahun yang lalu, saya merasa sangat bersalah karena saya tidak menghabiskan waktu pada novel saya sebanyak dulu. Pekerjaanku dalam proses, pada satu sisi berkembang secepat kilat, namun sekarang melambat, inci demi inci dan penyelesaiannya tidak terlihat sama sekali.

Energi kreatif yang biasa saya gunakan hampir menguap, dan beberapa waktu yang bisa saya tambahkan dalam pengembangannya terlihat seperti “setetes air dalam ember” dibanding dengan hujan lebat yang bisa saya lepaskan dulu.

Hal ini membuat saya membayangkan siapa diri saya sekarang :

Apakah saya mengerdil seiring waktu? Di mana energi kreatif yang bisa saya dedikasikan pada impian saya lebih terbatas daripada yang saya inginkan? Atau saya melihat dari saya lebih dari sudut pandang yang lebih “panoramik”? Tidak melihat diri saya sebagai “orang kreatif yang tidak bertanggung jawab”, tapi sebagai orang kreatif yang selalu berusaha keras di setiap kesempatan? Seseorang yang bisa bekerja dengan baik saat bisa berdedikasi dan saat yang lain hanya bisa mendedikasikan sedikit energinya?

Apakah kesuksesan hidup kita diukur dari bagaimana kelelahan dan habisnya energi kita saat akhir minggu? Ataukah ini hanya gagasan palsu? Gagasan yang bersumber dari adat Amerika yang kehilangan arah dan sekarang percaya bahwa workaholik seharusnya menjadi normal yang baru, dan tidak bisa melihat seseorang menjadi “sukses” atau “bekerja keras” kecuali orang tersebut bermata sembab, kelelahan dan secara konstan ketakutan dengan semua tekanan dan kegelihan dunia?

Sumber: Galih’s Personal Block



Leave a Reply

X
X